Kamis, 30 Desember 2010

Libertus Tensu Tjahjono (1988) - dalam menentukan apresiasi sastra

Apresiasi Sastra menurut Libertus Tensu Tjahjono (1988)
A.    Lapis struktur prosa fiksi
1.      Alur
2.      Karakter
3.      Latar/ panorama
4.      Titik kisah/ sudut pandang
5.      Gaya

B.     Lapis makna prosa fiksi
1.      Pembayangan peristiwa yang akan terjadi
2.      Tegangan (suspense)
3.      Nada
4.      Suasana
5.      Tema



Rangkaian Alur atau jalan cerita
Alur awal
Paparan  (exposition)
Rangsangan (inciting moment)                                       
Penggawatan (rising action)

Alur tengah
Pertikaian (conflict)
Perumitan (complication)
Puncak penggawatan (climax)

Alur akhir
Peleraian (falling action)
Penyelesaian (denoument)

Unsur makna puisi

Analisis unsur makna puisi
Tema adalah ide pokok dalam puisi. Adapun yang menjadi ide pokok yang disampaikan Zawawi dalam puisinya adalah berhubungan dengan falsafah hidup penyair terhadap kecintaannya pada tanah kelahiran yang inspiratif dan penyair menyatakan sebagai ikon tanah kelahirannya itu yakni Madura.
Rasa (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya. Dalam puisi ini Zawawi menyatakan sikap bahwa Madura adalah sebuah daerah yang berkebudayaan seperti kerapan sapi dan inspiratif. Madura kaya akan garam, tanah yang subur dan megah bagai emas.
Nada (tone) adalah sikap penyair kepada pembaca. Zawawi menyampaikan puisinya dari untaian kata demi kata bahwa dia dengan ambisiusnya menyatakan tentang alam lingkungan Madura dan pernyataan posisinya di tanah airnya tersebut.
Amanat  adalan pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisinya. Maka amanat dalam puisi Zawawi tersebut tentang sumpah dan janjinya akan kejayaan Madura. Sebab dia adalah generasi penerus yang mengemban tanggung jawab besar dalam melanjutkan kehidupan dan kebudayaan di Madura. 

Analisis unsur Fisik puisi

Analisis unsur Fisik puisi
Diksi  adalah pilihan kata oleh penyair. Dalam puisi di atas Zawawi  sangat pandai memilah-milih kata demi kata yang disampaikannya. Sehingga dapat menimbulkan nilai estetik dan kesatuan makna dalam setiap komposisi bunyinya. Diksi dalam puisi ini juga terpengaruh oleh latar sosial-budaya yakni Madura. Tak heran, penggunaan kata dengan istilah yang melekat dengan kehidupan Madura sangat kental. Sebagai contoh, /bahwa aku sapi kerapan/, /kubajak kau dengan tanduk logamku/, /di atas bukit garam/, /lantaran aku adalah sapi kerapan/. Dari penggalan baris puisi ini dapat dilihat bahwa aroma khas Madura sangat menyatu dalam puisi ini.
Imaji merupakan sebuah pembayangan dalam kata-kata yang dipilih penyair sehingga menimbulkan pengalaman sensoris bagi pembaca. Dalam imaji ini pembaca seolah-olah dapat merasakan apa yang disampaikan penyair secara langsung. Contoh, /seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah, sebasah madu himggaplah/ penggalan baris puisi ini menimbulkan pengalaman perasaan (taktil). /aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan, dan memetik bintang-gemintang/ menimbulkan pengalaman perasaan (taktil). Selain itu juga terdapat pencitraan pendengaran, penglihatan, pendengaran, dan pengecapan.
Majas  adalah bahasa kias atau bahasa lambang. Contoh, /di atasmu, bongkahan batu yang bisu/ ini adalah majas personifikasi dimana benda mati seolah bersikap seperti manusia. /bila dadamu kerontang/ majas hiperbola (berlebih-lebihan). /lantaran aku adalah sapi kerapan/ majas metonimia (sebagai lambang).
Rima atau irama adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas. Puisi Zawawi merupakan puisi yang berjenis modern sehingga sulit ditemukan pengulangan bunyinya. Sebab puisi yang terdapat penglangan bunyi secara dominan umumnya pada puisi tradisional.

Libertus Tensu Tjahjono (1988) - dalam menentukan apresiasi sastra

Apresiasi Sastra menurut Libertus Tensu Tjahjono (1988)
A.    Lapis struktur prosa fiksi
1.      Alur
2.      Karakter
3.      Latar/ panorama
4.      Titik kisah/ sudut pandang
5.      Gaya

B.     Lapis makna prosa fiksi
1.      Pembayangan peristiwa yang akan terjadi
2.      Tegangan (suspense)
3.      Nada
4.      Suasana
5.      Tema



Rangkaian Alur atau jalan cerita
Alur awal
Paparan  (exposition)
Rangsangan (inciting moment)                                       
Penggawatan (rising action)

Alur tengah
Pertikaian (conflict)
Perumitan (complication)
Puncak penggawatan (climax)

Alur akhir
Peleraian (falling action)
Penyelesaian (denoument)

Apresiasi Sastra menurut Libertus Tensu Tjahjono (1988)


Apresiasi Sastra menurut Libertus Tensu Tjahjono (1988)
A.    Lapis struktur prosa fiksi
1.      Alur
2.      Karakter
3.      Latar/ panorama
4.      Titik kisah/ sudut pandang
5.      Gaya

B.     Lapis makna prosa fiksi
1.      Pembayangan peristiwa yang akan terjadi
2.      Tegangan (suspense)
3.      Nada
4.      Suasana
5.      Tema



Rangkaian Alur atau jalan cerita
Alur awal
Paparan  (exposition)
Rangsangan (inciting moment)                                       
Penggawatan (rising action)

Alur tengah
Pertikaian (conflict)
Perumitan (complication)
Puncak penggawatan (climax)

Alur akhir
Peleraian (falling action)
Penyelesaian (denoument)

Apresiasi Prosa Fiksi menurut Yacob Sumarja (1978) dalam Pengantar Apresiasi Sastra
1.      Pendahuluan
2.      Alur atau jalan cerita
3.      Tema atau gagasan pokok pengarang
4.      Karakter atau penokohan
5.      Sudut pandang pengarang (latar,landas tumpu)
6.      Gaya atau cara pengarang menggunakan bahasa untuk mencapai efek tertentu.
7.      Suasana cerita atau warna dasar
8.      Penutup
Cara Menentukan Tema
·         Melihat persoalan mana yang paling menonjol
·         Secara kuantitatif persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik, konflik yang melahirkan peristiwa
·         Menghitung waktu penceritaan, yaitu waktu yang diperlukan untuk menceritakan peristiwa atau tokoh-tokoh di dalam karya sastra

Pengertian Tokoh (karakter)
Tokoh atau karakter adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita.

Cara Menentukan Tokoh Utama (protagonis)
·         Dilihat dari masalahnya lalu dilihat tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan masalah tersebut
·         Tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain
·         Tokoh yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan






Tokoh Durjana (Villain) adalah tokoh yang di dalam cerita sebagai biang keladi masalah atau penghasut.
Tokoh Andalan (bonfident) adalah tokoh yang tidak memegang peran utama, tetapi menjadi kepercayaan.
Tokoh Tambahan (extras) adalah tokoh yang tidak memiliki peran apa pun dan tidak mengucapkan dialog apa pun atau sebagai figuran.

Cara Pengarang Menggambarkan Watak Tokoh atau Metode Penampilan Watak Perilaku Cerita
1.      Melukiskan bentuk lahir
2.      Melukiskan jalan pikiran
3.      Melukiskan reaksi pelaku utama suatu kejadian
4.      Langsung menganalisis watak pelaku
5.      Melukiskan keadaan sekitar perilaku
6.      Melukiskan pandangan pelaku lain terhadap pelaku utama melalui berbuah cerita
7.      Melalui perbincangan pelaku-pelaku lain tentang tokoh tersebut dalam cerita

Bahasa MADURA

Bibit kata adalah  bunyi kecap (suku) pembentuk kata. Coba anda cari bibit kata dari kata di bawah ini: toles, sorat, leber pasar, keker.
Coba anda jelaskan tentang banyaknya pembagian jenis kata bahasa Madura.
Menurut wujudnya kata benda itu ada dua macam coba anda jelaskan dan beri contohnya masing-masing 2 kosakata.
Coba anda jelaskan kata ganti orang yang pertama dalam pembicaraan, dan beri contohnya 4 kosakata.
Coba anda jelaskan apa yang dimaksud dengan kata depan (lantaran) dan beri contoh kata depan; da, e, dan dari, masing-masing 5 kosakata.

Jawaban
Bibit kata:   Les     menjadi     toles
                   Rat     menjadi     sorat
                   Bar     menjadi     lebar
                   Ker     menjadi     keker

Pembagian jenis kata dalam bahasa Madura menurut cara pembagian kata dibagi menjadi dua macam, yaitu menurut kejadiannya dan menurut macam jenisnya. Pembagian jenis kata dalam bahasa Madura berbeda dengan Bahasa Indonesia, yaitu kalau dalam bahasa Indonesia terdapat 10 jenis kata. Sedangkan dalam Bahasa Madura terdapat 9 jenis kata. Karena dalam bahasa Indonesia ada jenis kata sandang (partikel) seperti: Sang, Yang dan Si, sedangkan dalam bahasa Madura tidak ada kata sandang. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah jenis-jenis kata dalam Bahasa Madura:
Perbandingan pembagian jenis kata:
Menurut Bahasa Indonesia                Menurut Bahasa Madura
Kata benda (substantifa)            Oca’ bharang
Kata ganti (pronomina)            Oca’ ghante
Kata sifat/ keadaan (ajektifa)            Oca’ sepat/ kabadaan
Kata kerja (verbalia)                Oca’ ghabay
Kata keterangan (adverbial)            Oca’ tambaan
Kata sambung (konjungsi)            Oca’ sambhung
Kata bilangan (numeralia)            Oca’ bilangan
Kata depan (preposisi)            Oca’ lantaran
Kata seru (interfeksi)                Oca’ serro
Kata sandang (Partikel)            tidak ada
Kata sandang yang dimaksud dalam bahasa Indonesia digunakan sebagai penyandang (sebutan) bagi orang atau sesuatu yang dianggap memiliki kelebihan (keistimewaan), dalam bahasa Madura berarti sebagai penegas arti saja.
Contoh penggunaan kata sandang dalam bahasa Indonesia:
Sang (raja, ratu, bos, istri, suami, saka bendera, pusaka)
      Yang (cantik, manis, bagus, besra, merah)
Si (gundul, botak, cebol, pandir)
Sedangkan contoh dalam bahasa Madura penggunaan kata Sang, Yang, Si adalah sebagai berikut:
Sang (bahasa Indonesia)    = Sang/ tang (bahasa Madura) sebagai kata ganti orang
Yang (bahasa Indonesia)     = Se (bahasa Madura) sebagai pertama/ empunya
Si (bahasa Indonesia)    = Se (bahasa Madura) sebagai kata tambahan (keterangan)

Menurut wujudnya kata benda dibagi menjadi 2 macam, yakni:
Kata benda kongkrit (nyata), asli (sokla)
Kata benda kongkrit adalah kata yang menyatakan nama barang yang nyata ada wujudnya yang dapat dibuktikan dengan alat panca indera (elong, tanang, kopeng, mata) contoh: kaju, buku, korse, labang dll.
Kata benda abstrak (tidak nyata)
Kata benda abstrak adalah kata yang menyatakan sesuatu yang dianggap sebagai benda (tidak tentu dapat dibuktikan dengan alat panca indera). Contoh: okoman, aghama, elmo, pangataoan, dll.

Kata ganti orang pertama dalam pembicaraan adalah: aba’, sengko’, aba’ dhibi’, ateya, bula, kaula, abdhina, abdhidhalem, eson.
Cara menggunakan kata ganti orang pertama ini tentunya menurut aturan tingkatan bahasa Madura (Ondhak Bhasa), yakni tingkat rendah (enje’ iye), tengah (engghi enten), tinggi (engghi bhunten), dan bahasa halus.
Bila berbicara dengan orang yang usia dan drajatnya lebih rendah atau teman sederajat dipakai bahasa tingkat rendah (enje’ iye), yakni: aba’, sengko’, eson, tang, ateya.
Bila berbicara dengan orang yang usia dan keduukannya sedrajat ata teman dipakai bahasa tingkat tengahan (engghi enten) seperti: bula, kula, kaula, panapa.
Bila berbicara dengan orang yang usia dan kedudukannya lebih tinggi dipakai tingkat bahasa tinggi (engghi bhunten) seperti: bhadhan kaula, ka’into, aponapa.
Bila berbicara dengan orang yang usia dan kedudukannya sangat tinggi maka digunakan bahasa halus, seperti: abdhina, abdhidhalem, bhadhiepon.
Kata depan (Oca’ Lantaran) adalah Kata yang ditulis/ diucapkan di depan kata ganti yang menyatakan letak atau tempat dan arah tujuan asalnya, nama orang, binatang, benda. Kata depan ini juga dapat mengubah arti kata asalnya. Dalam bahasa Madura ada 4 macam kata depan, yakni: da’, ka, dari, e, dll. Cara menulis tidak boleh disambung dengan kata dibelakangnya. Contoh :
Da’ = Da’ Sorbhaja                ka = ka Bhali          dari = dari sapa
          Da’ temor                               ka daja                  dari aeng
          Da’  baba                                ka Jakarta              dari Jember
          Da’ pengghir                          ka tengnga               dari attas
          Da’ Madura                           ka tase’               dari Arab
E = e budi
             e dimma
           e temor
           e langnge’
           e bila