Jumat, 30 Juli 2010

Ayat - Ayat ALqur'an intisasri sebuah semangat

"Mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, ketika kamu
kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka
berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya jiwa mereka itu kotor
dan tempat mereka adalah neraka Jahanam, sebagai balasan atas apa
yang telah mereka kerjakan"
(At - Taubah : 95)

Jika cinta dan kemunafikan telah berdiri dalam tempat yang sama, maka garis tipis antara nurani dan syahwat memang akan sulit untuk
terlihat berbeda. Inilah kisah gemuruh pembantaian, penindasan dan otoritas dari orang - orang yang tidak pernah mengerti objektifitas dari "untukmu agamamu dan untukku agamaku"(Qs 109) lalu coba berkelit dari realitas yang sudah jelas di tulis bahwa Tidak ada paksaan dalam mengikuti agama Islam (Qs2:256).

Tapi sejak Yahudi lebih memilih untuk lebih percaya kepada sapi emas daripada mematuhi anjuran sang kekasih Allah Nabi Musa As. Maka sejak itu pula mahkota sejarah mempunyai definisi baru yang isinya berakhir dalam ketukan palu dan kesepakatan di rumah - rumah para pakar retorika `kebebasan, persamaan dan persaudaraan' yang tak
pernah mampu belajar dari busuknya sejarah yang selalu di tulis berdasarkan egosentris paling menjijikan dari para gentiles.

Ceritakanlah tentang jeritan tangis dan rasa kehilangan, kehampaan dan ketakutan dari teror - teror para ksatria `hak asasi dan demokrasi', yang menghujani bumi dan tanah leluhur dari para generasi Syahadatain. Cerita yang tidak ada habisnya dari Ketapel -
ketapel Baitul Maqdis, Iraq, Afghanistan, Khasmir, Chechnya hingga yang paling up date yaitu api sejarah baru di Beirut Libanon. Gambaran nyata bahwa dunia sedang kembali kepada budaya bar-bar yang memicu ulang energi sodom dan gomora dalam duet baru antara Abu Jahal dan Gengis Khan.

Dan memang benar jika Allah SWT menghendaki, niscaya seluruh batang hidung alam semesta ini akan dijadikannya dalam satu warna. Tetapi Allah memang hendak menguji kita (Qs 5:48). Untuk belajar bahwa menjadi Islam adalah sebuah sumpah yang setelah itu kamu akan diuji (Qs 29:2). Karena kita memang tidak sedang dididik untuk menjadi
penonton, tapi kita juga dididik untuk mengambil bagian dalam pertempuran sepanjang masa ini bahwasanya orang - orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada Islam hingga Islam mengikuti ajaran mereka (Qs 2 : 120). Begitulah misi semesta ini telah mengajarkan kita pada sebuah panggilan yang akan mengingatkan kita pada perbedaan yang takkan pernah bersatu tentang definisi haq dan bathil, karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui (Qs 2:216).

Disinilah semangatnya bertarung antara kepentingan jiwa dan nurani yang kafir melawan nurani yang memahami hakekat dari misi rahmatan lil `alamin ini, Semangat Abu Jahal melawan semangat Rasulullah SAW, Semangat paganisme melawan Kalimat Tauhid. Semua sudah di takdirkan, tongkat estafet dakwah itu sudah diturunkan. Dan ketika misi 23 tahun itu sudah selesai dan lelaki yang menjadi bagian mutlak dari kesempurnaan semangat tauhid itu harus kembali ke Penciptanya dan menitipkan cerita baru bagi sejarah emas ini, tentang kisah para penerus di masa yang akan datang, tentang kelanjutan misi robbani ini hingga ke penghujung zaman.

Tapi Iblis memang tidak pernah senang kepada Syariat Allah SWT, ia selalu ada bersama kita dari depan belakang, hingga kanan dan kiri (Qs 7 : 17). Meracuni semua aspek dalam kehidupan kita Bisikannya akan terus menghampiri dan memprovokasi langkah, pemikiran, tingkah laku kita agar selalu mendustai nikmat Allah SWT (QS 55) hingga menghancurkan peradaban kita dan mengingkari sumpah yang di hari kiamat membuat kita menjadi bagian dari para penghianat yang berkata
sesungguhnya pada saat itu kami lalai (Qs7:172) pada kebenaran Islam ini dan selalu mendengarkannya sambil bermain - main (Qs21:2). Keterlambatan penyesalan yang membuat semua manusia terkutuk itu menyesal dan berharap hidup kembali ke dunia menjadi orang muslim (Qs 15:2).

Maka semangat - semangat kita memang seharusnya diimunisasi ulang bersama identitas Syahadatnya. Agar ia tidak salah untuk digunakan. Agar poros pergerakan berbaris rapih seperti bangunan yang kokoh (Qs 61:4). Karena Syahadat adalah cermin dasar energi, kepribadian dan gairah hidup keislaman yang tidak bisa di jelaskan dengan
keterbatasan manusia. Supremasi yang mampu mencangkok ulang peradaban Anshor, Muhajirin dan Kabilah - kabilah Arab untuk mengerti bawah fanatisme suku, ras dan golongan hanya akan membawa umat manusia kepada kemudharatan panjang dan semua itu hanya bisa disatukan dalam ruh keimanan, lalu selanjutnya keimanan itu akan
menghidupkan semangat peradaban baru. Dalam satu payung yang mengikat semua dalam aturan yang sudah di gariskan bahwa Tidak ada tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT.

Dan Syahadatain memang telah membuktikan sejarahnya, Arab yang tidak pernah dianggap istimewa dalam peta sejarah dunia kini telah berubah menjadi cahaya baru yang sejukkan semesta dengan intisari peradaban yang haluan mata airnya dibangun dari pondasi kalimat Tauhid yang agung, dan teknis pelaksanaannya dibentuk oleh proses bersama sang suri teladan Rasulullah SAW. disusun bersama strategi yang mengukir
sejarah dalam sebuah semangat yang penuh hentakan yakin untuk berkata "wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkan agama ini". keteguhan Rasullullah SAW yang kini lebih banyak terlupakan itu seharusnya mampu mengajarkan kita pada lapisan sejarah tentang ember bocor dari semua syair kebajikan Abu Thalib yang begitu setia menemani dan melindungi Rasulullah SAW inipun gagal untuk
menyelesaikan misteri seleksi alam itu, hanya karena semangat kebaikan beliau tidak terimunisasi dengan baik bersama hakekat syahadatain yang sesungguhnya.

Mari selamilah misteri semangat ini, pertarungan batin di ruang hati mereka yang terlanjur terjebak dan tidak mampu keluar seleksi panjang kehidupan dari sesuatu yang sering di anggap proses pembelajaran, yang disisi lain justru lebih banyak terlihat mencampuradukan antara hak dan batil. Salimul Aqidah yang kini telah tercemari oleh orientasi ghanimah dan thagut - thagut berlabel "kita jugakan harus menghargai latar belakang seseorang'. Ketakutan atas setiap friksi dan konfrontasi yang kini sudah tidak mampu melihat hakekat objektifitas yang sebenarnya.

Atau mungkin memang iblis di zaman ini telah ada dalam berbagai macam bentuk, bahkan merekapun bersyahadat diatas lidah dan bibir mereka, dan jika mereka bertemu dengan orang yang benar - benar beriman dan memperjuangkan syariat Allah SWT mereka akan
berkata "kami telah beriman", tetapi apabila mereka kembali kepada para setan - setan (pemimpin - pemimpin) mereka, mereka berkata "sesungguhnya kami bersama kamu (setan), kami hanya berolok - olok" (Qs 2 :14). Biarkanlah filterisasi alam akan meyeleksi semuanya. hingga kita dapat melihat pesan dari syair Hudaibiyah
dalam sebuah panggilan Baiat Ridhwah ketika Jadd bin Qais menjadi penerus Abdullah Bin Ubay yang selanjutnya. Kepengecutan yang menemami kemunafikan lalu melahirkan ekstremis - ekstremis baru, yang lebih ekstrem dari para pengecut propaganda yang mengkawinkan kebebasan dan hak asasi pada kacamata humanisme ala Robin Hood, yang melawan kedzaliman dengan strategi dari api lilin - lilin yang tidak mengerti janji tentang keabadian cahaya terang yang sebenarnya.

Hingga persis ketika Perjalanan Risalah ini sampai ketitik akhir kesempurnaannya dan Umar Bin Khatab ra berkata "Sesungguhnya setelah kesempurnaan itu hanya ada kekurangan". Ungkapan tulus yang keluar setelah beliau mendengarkan wahyu Allah SWT yang terakhir dari mulut Rasulullah SAW "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah
Kuridhai Islam itu jadi agama kalian" (Qs 5:3). Begitulah semangat dan Syahadatain seharusnya bisa menjadi anugerah keseimbangan, yang porsi naturalisasinya hanya bisa kau petakan dengan iman dan keikhlasan nurani. Dan orisinalitasnya hanya bisa kita mulai dengan ruang - ruang yang penuh dengan marifatulloh lalu hidup pada nilai - nilai Marifatul sang rasul yang sempurna dan disempurnakan itu. Dan jika semua itu terlihat sekurang ramalan Umar Ra, mungkin itu semua karena memang kita sendiri telah lalai akan Syahadat kita. Karena bisa jadi kita memiliki syahadatnya tapi kita tidak mampu membangun semangat untuk menghidupinya atau kita memang memiliki semangatnya tapi
kita terlalu `pintar' untuk merenungi harta karun terdahsyat dari nilai jual tiada taranya dari sebuah semangat hidup yang dimulai dengan Syahadatain.

"Umat ini tidak bisa di kalahkan oleh umat manapun, ia hanya bisa dikalahkan oleh dirinya sendiri"
(As Syahid Sheikh Abdullah Azzam Dari Buku Bergabung Bersama Kafilah)

Oleh : Muhammad Thufail Al Ghifari

0 comments:

Posting Komentar