Jumat, 13 Agustus 2010

Cerpen (cerita pendek)

Malam Kelabu

           Malam ini malam kelabu. Dingin angin berhambur menyapu alam tenang. Mercusuar masih menyala dengan kelap kelipnya. Lentera ini sungguh petanda bagi pesiar-pesiar laut yang hendak mendekap dermaga. Bahwa karang keras terlalu angkuh jika direngkuh. Seperti kelelawar malam ini yang menguasai kegelapan. Tak ingin kelabut ini berlalu sebelum fajar membiarkan kami dalam pelukan hangatnya. Ketika bergelantung pada tangkai-tangkai sepuh sekedar rehat capai semalam.

           Sementara gelombang mengulung-gulung bersambaran berhantam tebing. Buncahnya pecah berbuih. Simpang siyur ketam kecik mengintip dalam persembunyiannya. Kalau-kalau penjajah menjarah. Niscaya jepitnya mematahkan telunjuk hingga berdarah nanah. Rembulan pasi bercermin pada gelombang. Mungkin keluh kesahnya terlalu. Menangis pun tak kuasa. Sinarnya kacup menciptakan bayangan hitam seperti gulita.  

            Aku menunggu biduk yang berkayuh sejak kemarin tak jua kembali. Tentang adik dan kakek yang berpetualangan di sana. Kakek menganggap laut adalah hidupnya. Sedang adik hanyalah terhegemoni pikiran aneh kakek dimasa liburan yang sepi bagi orang pesisir. Tak ada pilihan hanya bergelut dengan ombak menantang angin itu lah indahnya liburan. Getir menggigil memang kala hujan mengoyak selaput jala yang dalam. Menjebak cakalan, kakap, tripang jika beruntung.

          Ah… terdampar dimana kakek adik ini. Resah ini menghunus malam. Kadang pikiran buruk mencemaskanku. Tapi asa sawuhnya penuh akan ikan kuharapkan. Barangkali mereka menepi di Bawean lalu meraup rupiah. Minggu depan ketika adik menemui kelas sudah berseragam tidak coklat. Noda tanah seragam yang lekat adalah kenanganku menabur benih 
saat program penghijauan desa. Adik menggantikan seragam itu.
Masih tentang seragam itu. Sebab noda tanah itu adalah noktah trembesan air mata. Desa kami menanam pancang-pancang tanah. Sebelum berita duka Ciamis menggerogoti lahan menjadi lobang-lobang kuburan massal. Meringis aspal Pariaman yang pecah belah memangsa awan. Lumuran lumpur panas Sidoarjo menguyupkan hati hingga lesap. Belum lagi deburan buih yang menerjang langit hingga rata. Badai menerkam siapapun, di laut, darat, atau pun khayangan lenyap.

          Hahh,, cenungku berlebihan. Badai. Bagaimana biduk itu?
Besok adalah hari ketiga sejak tandas. Kini belum merapat ke dermaga. Ada apa gerangan. Apakah badai telah melahap mereka. Tidakkah arus mengirim berita ke daratan seperti lentera mercusuar yang merindukkan kapal bergelok mencari tepian aman Tanjung.

          Sepenggal malam ini selalu meresahkanku. Membuatku menyusun ketakutan sendiri. Riuh-riuh tebing hempasan berdesing. Batu karang ini terlalu angkuh melawan laut. Tengok saja gunung yang repak mual meluapkan lahar. Muak dalam tenangnya. Derham langit menyambar dahan-dahan hijau pisang menjadi legam. Hujan kini bukan sekedar anugerah melainkan bah yang menyeret asa menjadi kelam.

           Seperti pucuk-pucuk yang gagal bertuah karena kering. Ranum mawar yang layu. Kaku. Kuyu. Inilah perlawanan hujan yang konon anugerah. Sungguh tak ada pilihan selain hidup atau mati. Sekarang berapa lama hidup ini dengan alam yang trengginas. Tak ada tempat bagi pemborong alam. Sudah terpotong dari siklus atmosfer. Mata-mata rantai telah lepuh dari ikatan. Matriks bumi ini meletup memuntahkan dahak seolah mengusir. Bagaimana jika bumi tak dapat dipijak. Makin menjadi-jadi saja lamunan keji yang mencemaskanku pada kakek dan adik.
          Ingin kupanggil mereka dengan sekeras-kerasnya. Kesal memang menunggu. Hatiku kelu menderu. Wajah mereka sangat lekit dalam benak ini. Tak ingin arloji perak meninggalkan waktuku. Kuingin berlama-lama membedah malam menguak tabir laut. Mercusuar ini kokoh sekokoh hatiku. Kala pasai raut ini namun tak menggoyahkan pikiranku.
Lesung telah bertabuh, ayam berkokok, penyeru tuhan memanggil jiwa yang tertidur. Sedang aku masih menunggu biduk kakek dan adik yang misteri. Akankah esok adalah sebuah pertemuan awal kami. Ketika salam parau kakek adalah buluh perindu. Adik adalah serenade penggema laras hati.
          Saat remang mata menata cahaya yang jauh. Gemutih bukan buih tapi membenam di cakrawala. Lelah telah mengalahkanku. Kutak bisa menanti buih itu membesar menembus cakrawala. Pikirku itu hanya bayang-bayang fajar yang mulai menyingsing. Kumemilih beranjak dalam lelah semalam yang mengigaukan biduk, kakek, adik.            




0 comments:

Posting Komentar