Jumat, 13 Agustus 2010

CERPEN

Mata Air
Aku akan pergi, Din! Tukas Ahmad. Aku merasa lebih baik jika merantau. Mencari penghidupanku sendiri. Apalagi Salimah menginginkanku untuk segera melamarnya. Tak kuasa aku untuk meneruskan hidup disini. Lumrah seusiaku harus pergi, menebas samudera sekalipun. Terasing. Kupukir hanya kau dan aku yang masih bertahan di sini, bukan? Pemuda di sini layaknya rajawali si penjelajah ulung. Bertahan hidup dengan kekuatannya sendiri. Mungkin akulah salah satunya. Tanah tandus ini pula mengusirku pergi. Langit kerontang tak mampu meneteskan mata air. Air mata ibuku pun terlalu deras menahan perih hidup ini. Tak ada pilihan lain. Kusegera menyapung pundi-pundi nafas keluargaku. Lebih-lebih kusendiri.
Kemana kau merantau?

Entahlah… Wajah dipalingkannya. Menghela nafas panjang. Sekelibat tatapannya nanar menghujam. Di mana ada mata air, tanah yang subur, langit megah, aku akan menghuninya.
Hidup seperti apa yang kau inginkan?
Hidup yang dapat membuatku menyusun batu bata, tiang beton, menata marmer, menjunjung gemeratap gagah. Paling tidak dapat menyeka air mata ibu. Dan yang terpenting aku akan segera melamar Salimah. Aku tak ingin dia ada yang mendahului. Sebab salah satu pundi nafas sang rajawali ada di kelangkangnya. Tentu habislah aku, jika aku kehilangan pundi nafas ini, bukan?
Tentu. Semoga kau mendapatkan apa yang aku inginkan! Biar aku di sini saja…
Apa Din? Memotong pembicaraan Syamsudin. Kau tidak mau ikut denganku. Apa yang dapat kau lakukan di sini? Apa yang dapat kau panen di tanah tandus ini. Apa yang dapat kau tadah dari langit kerontang. Menjadi pegawai kau tak bermodal. Apalagi menjadi orang pintar, sungguh kau tak berbakat. Apa yang dapat kau perjuangkan untuk hidup dan cintamu?
Hahhh….aku bukan dirimu. Aku cukup bahagia dapat berkumpul dengan keluarga. Aku tak ingin seperti rajawalimu itu. Aku hanya sapi kerapan yang hanya merasa nyaman melihat orang menepuk punggungku.
Syamsudin. Dengarkan aku. Kau adalah sahabatku. Tentu aku tak ingin kau melarat sendiri. Apa kau tidak mau menjadi orang yang dinantikan. Dibanggakan. Coba kau ingat si Rahman. Penampilannya necis sedatang dari Jakarta. Dompetnya tebal. Apalagi Makhrus. Huh…dia membelikan dua pasang sapi untuk bapaknya gembala. Dia berluntang-lanting di Kalimantan. Sepulangnya mereka pun melamar perawan. Apa kau tidak ingin menggandeng kekasih saat hari raya? Berkunjung mesra berhandai tolan. Tujuh hari tujuh malam dalam buaian dua belah kerabat. Begitu manis bukan? Lihat dirimu sekarang. Minah enggan menatap punggungmu. Kau pikirlah lagi. Besok pagi kutunggu kau di poskamling.
######

Pagi ahad yang cerah. Tepat pukul 6:30 waktu setempat. Pasar tradisional masih ramai pembeli. Lalu lalang santri-santri pulang mengaji di surau Nurussalam. Pengembala mengayuh sepeda pancat lengkap dengan arit dan tali karet ban bekas diboncengnya. Menebas rambhanan pakan ternaknya. Ada pula yang menggiring langsung sapi dan kambing ke tegalan. Lengkap dengan pecut kejutnya. Tali tampar dan gemerincingan di jalanan. Kadang pula seorang bersarung membawa sisa-sisa panganan semalam untuk gembala yang kandangnya berjarak. Ramai lagi mondar-mandir kuli pengangkut barang dagangan yang menanti silih berganti pick up Chevrolet. Ada yang menyebutnya kijang arab. Barangkali moncong mobil angkutan yang khas. Berdasarkan ceritera orang yang pernah naik haji. Ini mobil ala arab yang pernah dilihatnya.   Sementara rumah H. Samman yang berdekatan dengan pasar tak ubahnya sound system mendendangkan lagu Pajjar Laggu. Jelas sekali. Merdu. Ahmad menunggu kedatangan sahabat karibnya itu. Di poskamling tempat yang dijanjikan. Di seberang jalan pasar tradisional. Sesaat sampailah Syamsudin di pelupuk mataku.
Hahaha….Din. terbahak tawa riang. Datang juga kau. Sudah kau pikirkan?
Kupasti menepati janji. Merundukkan wajah. Mungkin masih sisa berpikir semalam. Nampak dahinya menebal gelap. Matanya sembab bengkak. Bibirnya kering kaku. Tapi wajahnya cerah bersinar. Bisa saja semalam suntuk beristikharah. Sejenak duduk di sisi poskamling. Ahmad pun mengikuti.
Bagaimana kawan?
Aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu. Seperti apa yang kukatakan kemarin. Aku tetap pada pendirianku. Aku tidak bisa ikut terbang seperti rajawalimu itu. Aku masih kerapan sapi. Berguling menggemburkan di atas tetanah ini. Apa adanya. Aku masih merasa nyaman melihat orang menepuk punggungku.
Mantapkah pilihanmu itu? Merengkuh pundak Syamsudin.
Senyumnya merekah. Menganggukkan kepala. Melepaskan rengkuhan dan menggenggam tangannya.
Aku tidak dapat memaksamu. Itulah jawabanmu. Itu adalah hidupmu. Sesegeralah kau berguling menggemburkan di atas tetanah ini. Lalu cepat kau hamburkan humus setiap penjuru tandusnya. Langit pun mengilhami menumpahkan rahmatnya.
Sekali lagi terimakasih. Maafkan aku. Begitu pula kau. Semoga kau mendapatkan hidup dan cintamu itu. Aku yakin rajawalimu, memiliki sembilan lebih pundi-pundi nafas. Kau akan terbang ke puncak hasratmu.
Bismillahi….. 
Memang cukup rumit baginya yang tak pelak jika jauh di negeri asing. Pengalaman lalu yang pernah di letakkan Tuhan di atas jajaran roda. Membuatnya sedikit berbeda dengan pemuda di sekitarnya. Malas bukan tapi santai barangkali. Sangat santai hingga susah diajak susah. Sejak ayahandanya pergi meninggalkan keluarga. Tak ada lagi yang dapat memanjakannya. Seusia pemuda segar dengan kebiasaan lamanya yang nyaman kini masih terbawa. Sukanya nongkrong di poskamling dari pagi hingga sore. Habis magrib hingga tengah malam. Berdendang ria ala seniman jalanan. Pinggir jalan tepatnya. Inilah pekerjaannya mengisi waktu. Pernah ada yang berbaik hati mengajaknya menjadi pramuniaga di ibu kota. Memang dia mengikut. Tapi selang tiga minggu kabur. Pulang menggali lubang. Beban lagi bagi keluarga. Inilah alasanku mengajaknya merantau. Ternyata Syamsudin bergeming. Dia memiliki jalan hidupnya sendiri.
#####

Masih risau langkah ini. Bukan karena ragu atas arahku. Sebab tak habis pikir juga pada Syamsudin. Apa lekanya mengurung dalam tempurung. Yang ada hanya semakin renta semakin liat terkungkung. Beban juga negeri ini. Heran lagi keningku. Jika hidup harus menunggu negeri memberi. Apalagi hakikat yang penting kumpul. Mengertikah arti kumpul. Tanya kesal batinku menggerutu. Seolah ingin mengubah adat orang-orang tanah tandus yang sukanya mengembara. Sebab negerinya ahang. Tak pukau pembawaannya garang. Dunia pun mengenalnya dari gelagat gersang ini. Ada yang menerima, mencaci, atau terkekeh aneh, juga rancak kagum. Pantas sudah berduyun menyerbu negeri asing. Tak lain dan tak bukan yang dicari adalah percikan. Tempat menyebulnya bercak-bercak mata air. Dari pelosok daratan, tepi tanjung, hingga urban.
Hangatnya pengembaraan kadang lupa daratan. Beranak-pinak. Sampai lupa bahasa ibu. Sepertihalnya yang telah kutemukan ketika mejeng di pasar baru. Logatnya lucu aku tau. Lagak bicaranya tinggi tapi kering. Dapat kutebak saudaraku yang terlantar. Inilah benih-benih ibu yang tumbuh dari mata air di negeri asing. Miris ngilu aku mendengar keluh. Kala rusuh menimpa saudara-saudaraku di perantauan. Tak tau berpulang. Pun lupa jalan pulang karena tak ada atap lagi berteduh. Inilah yang membedakan rajawali dengan ular naga memburu mata air. Biasanya rajawali menggalinya dengan peluh. Ular naga hanya menyerut lalu meneguknya.
Memang indah berkelana. Mengadu nasib melawan kemarau. Sayang, Syamsudin tak dapat mengecap asam garam bersamaku. Yang tentunya banyak cerita untuk ibu dengarkan. Apalagi mata air ini hablur berkilauan. Kurencanakan sebagai penyeka air matanya. Lalu bertatap mesra bersama kekasih. Waktu ingin kuhentikan peredarannya. Tak pernah habis kemut bibirku. Rautnya riang bukan kepalang. Aku pun girang. Bayangku.
#####

Bertahun sudah di negeri asing. Karatan dalam tubuh merekat melawan masa. Tak pernah terlepas segenggam tanah tandus dalam sanubari. Rekat sekali tetesan air mata ibu pada pipiku. Saat melepas pelukannya di dermaga. Aku pun terhanyut dalam buaian sendu. Inginku kabarkan bahwa tak ada yang berubah denganku. Pencarian mata air ini untuk melepas perihmu. Hanya saja belum sempat aku taburkan benih-benih untuk tanah tandus ini baginya. Sepucuk rindu untuk Salimah. Sabarlah menunggu. Aku berjanji akan membawakan mata air juga untuknya. Yang kusematkan di jemari manisnya. Bulan sebelum syawal. Bersama zakatnya pula. Ucapan orang tandus tak pernah pupus sayang. 

Bertenanglah di pondokmu. Nanti akan kujemput bersama penghulu sekalian.
Saatnya kukemas. Setelah bongkahan mata air kupadatkan dalam mata rajawali ini. Sayapku terlalu lebar menyapung pundi-pundi nafas. Saatnya kulepas kepakkan di udara. Langit biru mengharu. Mega putih melayang tertatih. Hembusan hangat angin menghantarku pulang ke peraduan. Mimpiku tentang humus Syamsudin di halaman. Karena ada musim baru yang katanya masih belum laku di pasaran. Tentang modernisasi yang dikehendakkan pemerintah. Yang berjuta rupiah dibangunnya. Pembangunan nan pemakmuran. Tokoh adat terlalu berburuk sangka menentang. Mubazir. Mata air di tanah tandus masih keringnya. 

Angin demi angin semilir di haluan. Masih tegap dalam apungan. Rajawali melangkahi ranting-ranting yang memerah darah. Banyak burung menangis tak mengerti lagi indah hidup. Aku bersaksi saja. Tak mampu aku menggapai angan. Apakah ibu kehilangan rasa seperti burung-burung yang kulihat. Semoga ini ilusi pikirku. Dari kemarau yang  tak pernah kompromi memekikkan leher.
Benar pula…dermaga yang masih megah berganti beton perkasa bersambung. Tak ayal atmosfir ini bagai kabut disertai embun kala pagi. Tapi masih saja suka merantau. Hanya demi percikan keringnya tandus. Mubazir. Ketidaksepahaman. Ketidakdewasaan. Takut. Tandus tetap saja tandus. Lebih baik membangun tandon agar dapat ditumpahkan airnya. Melesapkan benih-benih bebijian kala hujan tak lagi berkerabat.
#####

Dalam duga yang merayap-rayap. Tentang halaman rumah dan hamparan batu-batu laut. Putih berongga-rongga. Tebing tegalan yang rapi susunan batu besar, tanggung, bersetubuh. Mengusung kokoh batas tanah dengan pondasi rumah joglo yang beratap menjulang. Gema wewangi melati di pekarangan musim hujan. Gagang pintu simetris kelabu. Seperangkat patung topeng merah kuning emas menjelma keramat dinding ruang tamu. Kursi dan lemari kayu ulin, jati. Warisan buyut yang konon rumah ini sudah ditinggali keturunan yang ketujuh. Aku.
Miris sekali saat ibu berkata dalam suratnya bahwa Rama sakit tertindih serpihan jati dek joglo menjulang. Paku perekat telah letih. Karatan dimakan tahun. Angin deras musim ini menggoyahkan hingga menghempasnya. Begitu juga dia rewel saat malam hari harus keluar rumah untuk sekedar cuci muka bertahajud. Perigi tidak di dalam joglo menjulang. Yang menyedihkan lagi, musim hujan keterlaluan. Memerahkan muka ibu. Arisan tahlilan gagal dihelat. Atap jingga retak, celahnya mengguyurkan bah. Maklum aku adalah yang ketujuh.
Pencarian mata air ini membuatku bermimpi lebih dari sekedar pelepas dahaga kerongkongan. Tapi apa yang telah kujanjikan saat bersua Syamsudin. Kini mewujudkannya. Paling tidak layak tempat berteduh dari angin dan hujan. Bersanding dengan pekarangan melati yang ranum. Ibu pun tenang tak perlu memerahkan mukanya.
Selamat datang anakku..
Ibu, aku merindukanmu. Keningku jatuh di pelupuk kakinya. Berai air matanya masih saja seperti dahulu. Tulus. Sentuhan jemarinya bak belaian Tuhan. Sungguh di perantauan. Wajahnya adalag energi yang menguatkan. Kini kumerengkuhnya.
Aku juga merindukanmu. Mengajakku bernostalgia dengan dinding topeng merah kuning emas yang masih angkuh di dinding yang rapuh oleh masa.
Anakku. Bagaimana kau di perantauan?
Baik-baik saja…
Hahh…cemasku lega, Nak. Dengus nafasmu masih tandus.
Sejenak kududuk tenang di kursi rotan lapuk. Siluet dalam benak tentang kelegaan ibu. Misteri nafas tandus. Nosi apa lagi. Ibu adalah permata yang kilaunya tempiaskan bianglala kala cahaya memendarkannya. Sapanya menyejukkan hati. Aku bangga terlahir dari rahimnya. Selalu saja ibu membiarkanku bermain dalam misterinya. Ini yang membuatku selalu tertantang. Mengajari tentang keputusan. Tanggung jawab. Aku pun menjadi orang yang tak biasa bergantung. Nilai agama dan hidup yang ibu tanamkan membuatku bandel. Bandel akan ajakan paman untuk menjadi pegawai negeri. Yang hanya butuh jiu shi saja. Ujar paman. Bagiku ini adalah taruhan angker institusi. Darah dagingku akan ditolak bumi. Kumemilih merantau.
Ahhh….apa teka-teki ini ibu. Benakku menguap.
Lama sudah aku tak membuatkan kopi pahit untukmu, Nak. Senyumnya tersibak tabir misteri  itu.
Terima kasih Bu. Ternyata bertahun di perantauan ibu tak pernah melupakan kopi pahit kesukaanku. Kopi pahit tentang getir hidup. Pekak kerongkongan. Namun membuatku melayang tenang dan semangat hidup.
Kau bersihkan tubuhmu dan beristirahat.
Kubiarkan sejenak misteri itu dalam benakku. Sesegera akan kupecahkan.
#####

Kala pagi. Kebiasaanku duduk di teras depan rumah. Secangkir kopi pahit buatan ibu. Sementara lalu lalang orang dari dan ke pasar tradisional sebelah utara rumahku. Tak henti-hentinya sapa salam-salaman dari kawan yang mengetahuiku balik. Tapi tak kunjung punggung Syamsudin menampakkannya. Tiba-tiba kudengar sesuatu di samping rumahku. Percakapan seorang anak dengan temannya.
Aku mengerti tapi janggal saja. Sedari kanak-kanak tak lagi berbahasa ibu. Layaknya masa laluku saat ibu menghantamku dengan sapu lidi agar berbahasa lembut kepada yang lebih tua. Nah, kini lebih parah lagi berlagak pesinetronan. Seperti yang kutemui di perantuan. Gayanya yang perlente. Gengsi tak karuan. Kehilangan jati diri. Tak heran bahasa krama tinggal nama pelajaran sekolah tingkat dasar. Bahasa bagi yang renta. Jika tak terpakai lagi barangkali jadi rongsokan.
Tak tersadar juga alunan merdu Pajjar Laggu di rumah H. Samman berubah dentuman hiphop dancing rock cadas. Maklum putri metal H. Samman alergi lentingan angklung. Gendang telinganya lebih beresonansi dengan letupan drum daripada gong. Saat kuturuti langkah kaki penasaran ke sekitar. Kulihat tak dapat dibedakan rumah sapi ataukah manusia. Berlindung gemertap jingga yang elok. Jangan-jangan pesinden dan ludruknya diambang punah.
Teringat misteri ibu. Kelegaan setiba dari perantauan. Aku menyimpulkan jauh dari kasat mataku. Semoga saja tandus harus dibayar dengan humus yang bertaburan. Kenyataannya pekak ini semakin mencekik. Kerontang langit semakin membakar dadaku. Mata air tak kunjung menyebul. Kemarau berkepanjangan atas dahaga jiwa yang kosong. Angin berkelebat tak tau arah. Memang sepi jika bukan ramadhan seperti saat ini. Karena ramai beradu nasib. Hanya saja popisitas yang terbawa di sini. Bukan percikan yang menyejukkan ubun-ubun. Menimbulkan gelagat gersang yang hangat.
Masa menempatkan manusia sebagai lakon. Perubahan adalah ciptaannya. Karena tidak ada yang stabil disetiap kedipan mata. Denyutan nadi. Detik waktu. Siapa yang bertahan dia adalah penjaganya bukan pemenangnya. Karena yang menang adalah selalu Tuhan. Tegas ibu menepuk punggungku yang termenung.
Aku hanya tersentak ternganga. Memang misteri ibu dapat kupecahkan. Tapi misteri hatiku gelap tak terlihat. Kering darah dalam pembuluh. Meraba-raba galau harap Salimah. Surat cintanya membuatku meneteskan air mata.



0 comments:

Posting Komentar